Simplifikasi Kepribadian Introvert

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku. Aku merasa baik-baik saja saat sendiri, seperti sekarang ini, dan merasa tertekan bahkan terancam saat berada di keramaian. Keramaian? Di Malioboro atau mall maksudmu? Bukan. Keramaian yang berisi orang-orang yang aku kenal. Kalau keramaian di tengah-tengah orang-orang yang tidak aku kenal, that's fine. Keramaian sebagai anggota masyarakat desa, atau sebagai anggota komunitas, that's what i mean. Itulah masalahnya.

Aku dengar mengenai kepribadian introvert yang sering disalahpahami oleh orang-orang. Ada yang bilang introvert itu pemalu. Ada yang bilang, pendiam. Tapi dari definisi yang paling cocok, aku mengerti bahwa kita punya kepribadian introvert jika saat sendirian, energi kita bertambah, dan saat berada di keramaian, energi kita terkuras. Ya, itulah diriku. Jangankan berada di tengah-tengah kerumunan warga, di tengah-tengah keluarga besarku saja aku tidak nyaman. Kenapa? Bukankah aku lahir di tengah-tengah mereka? Ya benar. Tapi bukan lahir di tengah-tengah ipar-iparku. 

Sudah bertahun-tahun, dan aku tetap tak mampu beradaptasi dengan ipar-iparku. Ini sungguh berbeda dengan saudara-saudaraku yang lain. Dengan mudahnya mereka membaur dengan semua saudara ipar. Terkadang ini membuatku agak cemburu. Bukannya dengki. Aku sih suka melihat keakraban mereka, tapi itu langsung mengingatkan pada kekuranganku dalam membaur. Ya, aku belum berhasil menerima diriku apa adanya. Berkali-kali kukatakan pada diriku, "Ya Allah, terimakasih telah menjadikanku manusia yang unik. Aku mengakui segela kelebihan yang Engkau berikan padaku, dan juga kekurangan yang Engkau sematkan padaku". Tapi tetap saja, aku masih menganggap kekuranganku sebagai sebuah cacat. Seolah secara kasar aku mencela diriku: "untuk apa semua kelebihan hebat ini, jika aku tak mampu menyatu dengan orang-orang lain? apa gunanya segala skill ini jika masyarakat tidak menerimaku?".

Desperate? Hampir.

Jangan tanya apa usahaku. Bertahun-tahun aku kuliah dan beraktivitas sebagai frontliner yang berhadapan langsung dengan konsumen agar aku tahu bagaimana menghadapi orang. Aku juga beberapa kali mengikuti tour dakwah dan mencoba mengambil peran. Juga dua pesantren yang kutinggali sambil menuntut ilmu. Memangnya apa lagi kalau bukan demi "memperbaiki" kepribadianku yang menurutku tidak oke, alias "rusak". Kalau kuhitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh tahun aku menyadari hal ini dan mencoba memperbaikinya, dan sekarang hal ini diperparah dengan kondisiku yang tetap suka menjomblo di usia kepala tiga. Lengkaplah sudah: introvert plus minder akut! Apa lagi yang bisa kulakukan? Masak iya aku harus menikah demi menaikkan konfidensi dan diterima sebagai masyarakat. Bukan gue banget! Untuk apa melakukan sesuatu yang tidak tulus? Huft, jadi kompleks kan? 

Aku memang tidak tahu cara mengobrol dan berbasa-basi. Andai aku harus berjalan kaki ke suatu tempat melalui orang-orang yang aku kenal, aku akan mencari seribu jalan lain agar aku tak perlu bertemu, menyapa, dan berbasa-basi dengan orang yang aku kenal. Sungguh aneh, sebagai seorang yang pernah beberapa tahun menjadi bagian dari performer (berkali-kali membentuk dan bergabung dengan band), aku justru tidak suka keramaian. Tapi, kalau kamu dapat poinnya, kamu tidak akan heran kok dengan kondisiku. Manggung di tengah keramaian di sebuah kota, tidak sama dengan berkumpul dengan banyak orang yang semuanya mengenalimu. Ya, aku suka jadi anonim. 

That's why kehidupan desa tidak cocok denganku. Ini adalah rekor terlamaku berada di desa tempat tinggal keluarga besarku. Aku sudah setahun lebih di sini. Biasanya aku hanya bertahan beberapa bulan atau bahkan beberapa minggu saja. Andai aku bisa, sekarang pun aku sudah cabut dan cari aktivitas di kota: kembali ke jogja kek, atau ke jakarta yang merupakan tantangan yang selalu kuhindari, atau jadi nobody di kota lain, atau kembali ke pondok dan berkhidmat di sana. But i can't. Ada hal yang membuatku terpaksa kembali ke sini tahun lalu, dan terpaksa bertahan di sini smapai saat ini. Faktor ekonomi? salah! Faktor pekerjaan? Juga salah! Yang benar adalah faktor keluarga. Aku memang diserahi untuk mengelola toko milik keluargaku, tepatnya kakak sulungku, dan aku juga mendapat penghasilan yang banyak dibanding saat di jogja. Tapi itu semua setelah beberapa kali diminta langsung oleh kakakku, dan yang tidak bisa kutolak terakhir kali waktu itu, karena kakakku sekeluarga mendatangiku di jogja dan memanfaatkan ibuku untuk memanggilku pulang, sehingga aku terpaksa menurutinya, tentunya yang aku turuti adalah ibuku. Apa lagi yang lebih mengerikan daripada mati sebagai anak durhaka?

Ya, walaupun saat ini aku pun memilih untuk tidak tinggal bersama ibuku. Ya, aku hanya mengunjungi beliau setiap satu atau dua hari. Aku tahu, banyak yang berpendapat bahwa aku bersikap aneh, tidak mau tinggal bersama beliau. Tapi asal kamu tahu saja, aku adalah orang yang menyenangkan saat jauh dan menyebalkan saat dekat. Dan aku tidak nyaman jika bersama oran glain terlalu lama, meskipun itu keluargaku sendiri. Itulah sebabnya, tidak masalah jika aku terasing dari siapapun, selagi itu baik buat aku dan mereka, daripada aku harus terus bersama mereka dan mereka harus merasakan betapa menjengkelkannya aku.

Sebagai introvert, aku tidak minta dimengerti, apalagi dikasihani. Aku hanya ingin, di dunia ini, seharusnya orang-orang lebih memahami, bahwa tidak semua orang berekspresi dengan cara yang sama. Berilah ruang untuk orang-orang yang memaknai cinta dan keperdulian secara berbeda sepertiku. Aku tidak suka berkumpul dengan orang banyak, bukan berarti aku benci mereka, tapi justru karena aku berkesimpulan inilah yang paling baik. Bayangkan jika orang-orang introvert sepertiku selalu memaksakan diri dan menjadi orang bodoh di tengah-tengah orang-orang introvert (padahal bisa produktif jika sendirian), bisa jadi akan ada banyak penyakit hati yang timbul, kalau bukan pada diri mereka, minimal pada diri si-introvert. Padahal dengan kesendiriannya, akan banyak hal-hal mengejutkan yang diciptakan oleh orang-orang introvert ini.

Comments